BAB V. Bagaimana Arthur terpilih menjadi Raja, dan perihal keajaiban serta kemukjizatan sebilah pedang yang dicabut dari sebongkah batu oleh Arthur tersebut.
Kemudian beradalah kerajaan itu dalam mara bahaya yang besar untuk waktu yang lama, karena setiap penguasa yang memiliki banyak pengikut yang perkasa memperkuat dirinya, dan banyak yang berhasrat untuk menjadi Raja. Kemudian Merlin pergi menghadap Uskup Agung Canterbury, dan menasihatinya untuk memanggil segenap penguasa kerajaan, dan segenap bangsawan bersenjata, agar mereka harus datang ke London menjelang hari Natal, dengan ancaman kutukan; dan untuk alasan inilah, bahwa Yesus, yang dilahirkan pada malam itu, agar Ia karena belas kasih-Nya yang besar sudi kiranya menunjukkan suatu mukjizat, sebagaimana Ia telah datang untuk menjadi Raja umat manusia, untuk menunjukkan suatu mukjizat siapakah yang berhak menjadi Raja sejati atas kerajaan ini. Maka Uskup Agung, atas petunjuk Merlin, memanggil segenap penguasa dan bangsawan bersenjata agar mereka datang menjelang malam Natal ke London. Dan banyak dari mereka yang menyucikan kehidupan mereka, agar doa mereka niscaya lebih berkenan di hadapan Tuhan. Maka di gereja terbesar di London, entah itu gereja Paul atau bukan kitab berbahasa Prancis tidak menyebutkannya, segenap kaum bangsawan berada semenjak jauh sebelum fajar menyingsing di dalam gereja tersebut untuk memanjatkan doa. Dan tatkala ibadat pagi dan misa pertama telah usai, terlihatlah di pelataran gereja, di hadapan altar tinggi, sebongkah batu besar berbentuk bujur sangkar, menyerupai batu pualam; dan di tengah-tengahnya terdapatlah layaknya sebuah landasan tempa dari baja setinggi satu kaki, dan di dalamnya tertancap sebilah pedang yang elok tanpa sarungnya pada bagian ujungnya, dan terdapat huruf-huruf yang tertulis dengan emas di sekeliling pedang itu yang berbunyi demikian:—Barang siapa mencabut pedang ini dari batu dan landasan tempa ini, adalah Raja sejati yang terlahir atas seluruh Inggris. Kemudian orang-orang pun takjub, dan menyampaikan hal itu kepada Uskup Agung.
Aku menitahkan, kata Uskup Agung, agar kalian tetap berada di dalam gereja
kalian dan senantiasa memanjatkan doa kepada Tuhan, agar tiada seorang pun yang
menyentuh pedang itu hingga misa agung usai sepenuhnya. Maka tatkala segenap
misa telah usai segenap penguasa pergi untuk menyaksikan batu dan pedang
tersebut. Dan tatkala mereka melihat tulisan tersebut beberapa orang pun
mencoba, yakni mereka yang berhasrat menjadi Raja. Namun tiada seorang pun yang
sanggup menggeser pedang itu maupun menggerakkannya. Ia tidak berada di sini,
kata Uskup Agung, yang akan berhasil mencabut pedang ini, namun janganlah ragu
bahwa Tuhan akan membuatnya dikenali. Namun inilah nasihatku, kata Uskup Agung,
agar kita menyediakan sepuluh kesatria, pria-pria dengan nama yang masyhur, dan
mereka harus menjaga pedang ini. Maka hal itu pun dititahkan, dan kemudian
dikumandangkanlah sebuah pengumuman, bahwa setiap pria yang berhasrat harus
mencobanya, untuk memenangkan pedang tersebut. Dan pada Hari Tahun Baru segenap
Baron menyelenggarakan pertarungan tombak dan sebuah turnamen, agar segenap
kesatria yang hendak bertarung tombak atau berlaga dalam turnamen dapat unjuk
kebolehan di sana, dan semua ini dititahkan demi menjaga segenap penguasa tetap
berkumpul bersama dengan rakyat jelata, karena Uskup Agung menaruh kepercayaan
bahwa Tuhan akan membuat dikenali siapa yang sepatutnya memenangkan pedang
tersebut.
Maka pada Hari Tahun Baru, tatkala ibadat telah usai, segenap Baron berkuda
menuju medan laga, sebagian untuk bertarung tombak dan sebagian untuk berlaga
dalam turnamen, dan maka terjadilah bahwa Sir Ector, yang memiliki penghidupan
yang berlimpah di sekitar London, berkuda menuju pertarungan tombak tersebut,
dan bersamanya berkudalah Sir Kay putranya, serta Arthur muda yang merupakan
saudara asuhnya; dan Sir Kay telah diangkat menjadi kesatria pada perayaan
Semua Orang Kudus sebelumnya. Maka tatkala mereka berkuda menuju arah medan
pertarungan, Sir Kay kehilangan pedangnya, karena ia telah meninggalkannya di
kediaman ayahnya, dan maka ia memohon kepada Arthur muda untuk memacu kudanya
mengambil pedang tersebut. Aku bersedia, kata Arthur, dan memacu kudanya dengan
kencang untuk mengambil pedang itu, dan tatkala ia tiba di kediaman, sang Lady
dan semua orang telah keluar untuk menyaksikan pertarungan tombak. Kemudian
Arthur merasa gundah, dan berkata kepada dirinya sendiri, aku akan berkuda ke
pelataran gereja, dan mengambil pedang yang tertancap di dalam batu itu
bersamaku, karena saudaraku Sir Kay tidak boleh tidak memegang pedang pada hari
ini. Maka tatkala ia tiba di pelataran gereja, Sir Arthur turun dan menambatkan
kudanya pada pagar titian, dan maka ia melangkah menuju tenda, dan tidak
mendapati satu pun kesatria di sana, karena mereka sedang berada di medan
pertarungan. Dan maka ia pun menggenggam pedang itu pada gagangnya, dan dengan
ringan namun bertenaga mencabutnya keluar dari batu tersebut, dan mengambil
kudanya lalu memacu kudanya hingga ia tiba di hadapan saudaranya Sir Kay, dan
menyerahkan pedang itu kepadanya. Dan segera setelah Sir Kay melihat pedang
itu, ia mengenali dengan sungguh-sungguh bahwa itu adalah pedang dari batu
tersebut, dan maka ia memacu kudanya menghadap ayahandanya Sir Ector, dan
berkata: Tuanku, lihatlah di sini ada pedang dari batu itu, yang oleh karenanya
aku niscaya menjadi Raja atas tanah ini. Tatkala Sir Ector memandang pedang
tersebut, ia berbalik kembali dan menuju ke gereja, dan di sana mereka bertiga
pun turun, dan melangkah masuk ke dalam gereja. Dan seketika itu juga ia
menitahkan Sir Kay untuk bersumpah di atas sebuah kitab suci bagaimana ia
mendapatkan pedang itu. Ayahanda, sembah Sir Kay, melalui saudaraku Arthur,
karena dialah yang membawakannya untukku. Bagaimana engkau mendapatkan pedang
ini? tanya Sir Ector kepada Arthur. Ayahanda, hamba akan memberitahumu. Tatkala
hamba tiba di kediaman untuk mengambil pedang saudaraku, hamba tidak mendapati
seorang pun di rumah yang dapat menyerahkan pedangnya kepadaku; dan maka hamba
berpikir bahwa saudaraku Sir Kay tidak sepatutnya tidak berpedang, dan maka
hamba datang kemari dengan penuh hasrat dan mencabutnya keluar dari batu itu
tanpa sedikit pun kesulitan. Apakah engkau menjumpai kesatria-kesatria di
sekitar pedang ini? tanya Sir Ector. Sama sekali tidak, jawab Arthur. Kini,
kata Sir Ector kepada Arthur, aku memahami bahwa engkau niscaya menjadi Raja
atas tanah ini. Mengapakah harus aku, tanya Arthur, dan untuk alasan apakah?
Tuanku, sembah Ector, karena Tuhanlah yang menghendakinya demikian; karena
tidak akan pernah ada seorang pria pun yang sanggup mencabut pedang ini,
melainkan ia yang kelak menjadi Raja sejati atas tanah ini. Kini biarlah hamba
melihat apakah Paduka sanggup menancapkan pedang itu kembali ke tempatnya semula,
dan mencabutnya kembali. Hal itu bukanlah suatu keahlian yang sulit, kata
Arthur, dan maka ia pun menancapkannya ke dalam batu; yang bersamanya Sir Ector
mencoba untuk mencabut pedang tersebut namun gagal.
Komentar
Posting Komentar