Kini cobalah, kata Sir Ector kepada Sir Kay. Dan seketika itu juga ia menarik pedang itu dengan segenap tenaga; namun hal itu tidaklah berhasil. Kini engkau harus mencoba, kata Sir Ector kepada Arthur. Aku bersedia, kata Arthur, dan mencabutnya dengan mudah. Dan bersamaan dengan itu Sir Ector bersimpuh ke atas tanah, dan begitu pula Sir Kay. Aduhai, kata Arthur, ayahanda dan saudaraku yang terkasih, mengapakah kalian bersimpuh kepadaku? Tidak, tidak, Tuanku Arthur, tidaklah demikian; hamba tidak pernah menjadi ayahanda Paduka maupun berasal dari darah Paduka, melainkan hamba mengetahui dengan sungguh-sungguh bahwa Paduka berasal dari darah keturunan yang lebih tinggi daripada yang hamba duga sebelumnya. Dan kemudian Sir Ector menceritakan semuanya kepadanya, bagaimana ia telah dititahkan untuk mengasuhnya, dan atas perintah siapakah, dan melalui penyerahan Merlin.
Kemudian Arthur berduka cita teramat sangat tatkala ia memahami bahwa Sir
Ector bukanlah ayahandanya. Tuanku, sembah Ector kepada Arthur, sudikah Paduka
menjadi junjunganku yang baik dan penuh karunia tatkala Paduka menjadi Raja
kelak? Jika tidak niscaya akulah yang patut disalahkan, kata Arthur, karena
engkaulah pria di dunia ini yang kepadanya aku paling berhutang budi, dan juga
Lady yang mulia serta ibundaku istrimu, yang sama baiknya seperti kepada
anaknya sendiri telah membesarkan dan menjagaku. Dan jika kelak memang kehendak
Tuhan bahwa aku menjadi Raja sebagaimana yang engkau katakan, engkau niscaya
meminta kepadaku apa yang dapat aku lakukan, dan aku tidak akan mengecewakanmu;
Tuhan melarangku untuk mengecewakanmu. Tuanku, sembah Sir Ector, hamba tidak
akan meminta lebih banyak dari Paduka, melainkan agar Paduka sudi mengangkat
putra hamba, saudara asuh Paduka, Sir Kay, menjadi juru pengurus istana atas
segala wilayah Paduka. Hal itu akan dilaksanakan, kata Arthur, dan lebih dari
itu, demi kesetiaan ragaku, bahwa tidak akan pernah ada pria yang mengemban
jabatan itu selain dirinya, selama ia dan aku masih hidup. Bersamaan dengan itu
mereka pergi menghadap Uskup Agung, dan memberitahunya bagaimana pedang itu
berhasil dicapai, dan oleh siapa; dan pada Hari Kedua Belas segenap Baron
datang ke sana, dan untuk mencoba mengambil pedang tersebut, siapa pun yang
berhasrat mencoba. Namun di sana di hadapan mereka semua, tidak ada seorang pun
yang sanggup mencabutnya keluar melainkan Arthur; yang oleh karenanya banyak
penguasa menjadi murka, dan mengatakan bahwa hal itu adalah aib yang besar bagi
mereka semua dan bagi kerajaan, untuk dikuasai oleh seorang bocah yang tidak
dilahirkan dari darah bangsawan tinggi. Dan maka mereka berselisih pada waktu
itu sehingga hal itu ditunda hingga hari Candlemas dan kemudian segenap Baron
harus berkumpul di sana kembali; namun senantiasa kesepuluh kesatria dititahkan
untuk menjaga pedang tersebut siang dan malam, dan maka mereka mendirikan
sebuah tenda kebesaran menaungi batu dan pedang itu, dan lima orang senantiasa
berjaga. Maka pada hari Candlemas lebih banyak lagi penguasa besar datang ke
sana demi memenangkan pedang tersebut, namun tidak ada seorang pun yang
berhasil. Dan persis sebagaimana yang Arthur lakukan pada hari Natal, ia
melakukannya pada hari Candlemas, dan mencabut pedang itu dengan mudah, yang
atas hal tersebut segenap Baron merasa amat gusar dan menundanya kembali hingga
perayaan agung Paskah. Dan sebagaimana Arthur telah berhasil sebelumnya,
demikian pula yang dilakukannya pada perayaan Paskah; namun masih ada beberapa
dari para penguasa besar menaruh amarah bahwa Arthur kelak menjadi Raja, dan
menundanya kembali hingga perayaan Pentakosta.
Kemudian Uskup Agung Canterbury atas bimbingan Merlin menitahkan untuk
menyediakan kesatria-kesatria terbaik yang dapat mereka peroleh, dan
kesatria-kesatria yang paling dikasihi serta dipercayai oleh Uther Pendragon
pada masa hidupnya. Dan kesatria-kesatria semacam itu ditempatkan di sekeliling
Arthur seperti Sir Baudwin dari Britania, Sir Kay, Sir Ulfius, Sir Brastias.
Mereka semua ini, beserta banyak yang lain, senantiasa berada di sekeliling Arthur,
siang dan malam, hingga perayaan Pentakosta.
Komentar
Posting Komentar