Menjelang saat itu melangkah masuklah ke medan laga Raja Ban yang beringas layaknya seekor singa, dengan panji-panji berwarna hijau dan berhiaskan emas di atasnya. Ha! a! seru Raja Lot, kita niscaya akan diluluhlantakkan, karena di sebelah sana aku melihat kesatria yang paling gagah berani di dunia, dan pria dengan kemasyhuran terbesar, karena tiada lagi dua bersaudara semacam Raja Ban dan Raja Bors yang hidup di muka bumi, yang oleh karenanya kita menanggung hajat untuk menyingkir atau binasa; dan melainkan apabila kita menyingkir secara jantan dan bijaksana tiada hal lain selain maut menanti. Tatkala Raja Ban menerjang ke dalam kancah pertempuran, ia menerjang dengan teramat ganasnya sehingga tebasan-tebasannya bergema menderu dari arah pepohonan hutan dan perairan; yang oleh karenanya Raja Lot menangis meratap karena belas kasih dan duka cita tatkala ia menyaksikan sedemikian banyak kesatria yang tangguh menemui ajal mereka. Namun melalui daya pertempuran yang teramat besar dari Raja Ban mereka membuat kedua kubu pasukan utara yang tadinya terpisah saling berbenturan satu sama lain akibat ketakutan yang teramat sangat; dan ketiga raja beserta para kesatria mereka terus-menerus melakukan pembantaian, sehingga merupakan suatu kegetiran untuk menyaksikan tumpah ruah pasukan yang melarikan diri tersebut. Namun Raja Lot, dan Raja dengan Seratus Kesatria, dan Raja Morganore menghimpun kembali pasukan mereka bersama-sama dengan sifat kesatria yang tiada tara, dan melakukan unjuk keperkasaan bersenjata yang hebat, dan mempertahankan medan pertempuran sepanjang hari itu, dengan kegigihan yang setara.
Tatkala Raja dengan Seratus Kesatria
menyaksikan kehancuran besar yang diperbuat oleh Raja Ban, ia memacu kudanya
menerjang kepadanya, dan menghantamnya lurus ke atas pada ketopongnya, suatu
tebasan yang teramat dahsyat, dan membuatnya pening teramat sangat. Kemudian
Raja Ban menjadi teramat murka terhadapnya, dan mengejarnya dengan beringas;
pria yang lain itu menyaksikan hal tersebut, dan mengangkat perisainya, lalu
memacu kudanya maju ke depan, namun tebasan Raja Ban menghujam turun dan
membelah putus sebongkah potongan dari perisai tersebut, dan pedang itu
meluncur turun di samping zirah rantai di belakang punggungnya, dan menembus belah
zirah pelindung baja beserta kuda itu sungguh menjadi dua bagian, sehingga
pedang itu menyentuh tanah. Kemudian Raja dengan Seratus Kesatria meloloskan
diri dari atas kuda itu dengan gesit, dan dengan pedangnya ia menusuk kuda Raja
Ban tembus hingga ke sisi lainnya. Bersamaan dengan hal itu Raja Ban meloloskan
diri dengan gesit dari kudanya yang telah binasa, dan kemudian Raja Ban
menghantam pria itu dengan sedemikian menggebu-gebu, dan menghantamnya pada
ketopongnya sehingga ia tersungkur ke atas tanah. Juga dalam kemurkaan tersebut
ia memukul jatuh Raja Morganore, dan di sana terjadilah pembantaian
besar-besaran terhadap kesatria-kesatria yang tangguh beserta banyak nyawa yang
berjatuhan. Menjelang saat itu melangkah masuklah ke dalam kancah pertempuran
Raja Arthur, dan mendapati Raja Ban tengah berdiri di tengah-tengah pria-pria
yang telah binasa beserta kuda-kuda yang mati, bertarung dengan berjalan kaki
layaknya seekor singa yang beringas, sehingga tiada seorang pun yang berani
mendekatinya, sejauh yang dapat ia jangkau dengan pedangnya, melainkan ia
niscaya menerima tebasan yang menyiksa; yang atas hal tersebut Raja Arthur
merasa teramat iba. Dan Arthur bersimbah darah sedemikian rupanya, sehingga
melalui perisainya tidak ada seorang pun yang mungkin mengenalinya, karena
hanyalah darah dan otak yang membalut pedangnya. Dan tatkala Arthur memandang
ke dekatnya ia melihat seorang kesatria yang menunggangi kuda yang teramat
tangguh, dan bersamaan dengan itu Sir Arthur berderap menerjangnya, dan menghantamnya
pada ketopongnya, sehingga pedangnya menembus hingga ke giginya, dan kesatria
itu pun tersungkur binasa ke atas tanah, dan serta-merta Arthur meraih kuda itu
pada kekangnya, dan menuntunnya ke hadapan Raja Ban, dan berkata, Saudaraku
yang budiman, terimalah kuda ini, karena engkau menaruh kebutuhan yang besar
atasnya, dan aku merasa teramat pedih atas kerugian besarmu ini. Hal ini kelak
akan segera terbalaskan, kata Raja Ban, karena aku menaruh kepercayaan kepada
Tuhan bahwa nasibku tidaklah berakhir demikian melainkan beberapa dari mereka
niscaya akan menyesali hal ini dengan teramat sangat. Aku amat memahaminya,
kata Arthur, karena aku menyaksikan sepak terjangmu yang sungguh nyata;
meskipun demikian, aku tidak sanggup menjangkau dirimu pada saat tersebut.
Namun tatkala Raja Ban telah kembali
menunggang kuda, kemudian bermulalah pertempuran yang baru, yang mana teramat
sengit dan keras, dan merupakan pembantaian yang teramat besar. Dan maka
melalui kekuatan yang besar Raja Arthur, Raja Ban, dan Raja Bors membuat para
kesatria mereka sedikit menarik diri ke belakang. Namun senantiasa kesebelas
raja itu beserta barisan kesatria mereka tidak pernah berbalik mundur; dan maka
mereka menarik diri menuju sebuah hutan kecil, dan maka menyeberangi sebuah
sungai kecil, dan di sana mereka mengistirahatkan diri, karena pada malam hari
mereka tidak akan mendapati waktu untuk beristirahat di medan laga. Dan
kemudian kesebelas raja dan para kesatria itu berkumpul menjadi satu kelompok
bersama-sama, layaknya pria-pria yang dicekam ketakutan dan kehilangan segala
asa. Namun tidak ada seorang pun yang sanggup menembus pertahanan mereka,
mereka mempertahankan barisan mereka sedemikian solidnya baik dari belakang
maupun dari depan, sehingga Raja Arthur merasa takjub akan unjuk keperkasaan
bersenjata mereka, dan menjadi teramat murka. Ah, Sir Arthur, kata Raja Ban dan
Raja Bors, janganlah mencela mereka, karena mereka bertindak sebagaimana yang
sepatutnya dilakukan oleh pria-pria tangguh. Karena demi kesetiaanku, kata Raja
Ban, mereka adalah para petarung terbaik, dan kesatria dengan keperkasaan
tertinggi, yang pernah aku saksikan atau aku dengar perihalnya, dan kesebelas
raja itu adalah pria-pria dengan kehormatan yang teramat besar; dan sekiranya
mereka mengabdi kepada Paduka niscaya tidak ada raja di bawah kolong langit ini
yang memiliki sebelas kesatria semacam itu, dan dengan kehormatan sedemikian
rupa. Aku tidak sudi mengasihi mereka, kata Arthur, mereka berhasrat untuk
membinasakanku. Kami amat menyadari hal itu, kata Raja Ban dan Raja Bors,
karena mereka adalah musuh bebuyutan Paduka, dan hal itu telah terbukti
sebelumnya; dan pada hari ini mereka telah menunaikan bagian mereka, dan amat
disayangkan akan kekeraskepalaan mereka.
Kemudian segenap kesebelas raja itu
berkumpul bersama, dan kemudian kata Raja Lot, Tuan-tuan, kalian harus menempuh
jalan lain daripada yang kalian lakukan, atau jika tidak kerugian yang lebih
besar menanti di hadapan kita; kalian dapat melihat seberapa banyak pasukan
yang telah kita korbankan, dan seberapa banyak pria tangguh yang kita
hilangkan, karena kita senantiasa melindungi para prajurit pejalan kaki ini,
dan senantiasa dalam upaya menyelamatkan satu prajurit pejalan kaki kita
mengorbankan sepuluh pasukan berkuda untuknya; oleh karena itu inilah
mufakatku, biarlah kita memisahkan para prajurit pejalan kaki dari sisi kita,
karena hari telah menjelang malam, karena Arthur yang mulia tidak akan membuang
waktu untuk memburu para prajurit pejalan kaki, karena mereka dapat
menyelamatkan diri mereka sendiri, hutan berada dalam jangkauan yang dekat. Dan
tatkala kita pasukan berkuda telah berkumpul bersama, perhatikanlah agar setiap
dari kalian para raja menitahkan ketetapan sedemikian rupa agar tidak ada
seorang pun yang melanggarnya dengan ancaman maut. Dan barang siapa yang
melihat pria mana pun mempersiapkan dirinya untuk melarikan diri, serta-merta
ia harus dibinasakan, karena lebih baik kita membinasakan seorang pengecut,
daripada akibat seorang pengecut kita semua binasa. Apakah yang hendak kalian
katakan? tanya Raja Lot, jawablah aku kalian segenap raja. Hal itu diutarakan
dengan amat baik, titah Raja Nentres; demikian pula kata Raja dengan Seratus
Kesatria; hal yang sama diutarakan oleh Raja Carados, dan Raja Uriens; demikian
pula yang dilakukan Raja Idres dan Raja Brandegoris; dan demikian pula yang
dilakukan Raja Cradelment, dan Duke dari Cambenet; hal yang sama diutarakan
Raja Clariance dan Raja Agwisance, dan mereka bersumpah tidak akan pernah
mengkhianati satu sama lain, baik demi kehidupan maupun demi kematian. Dan
barang siapa yang melarikan diri, melainkan bertindak sebagaimana yang mereka
lakukan, niscaya akan dibinasakan. Kemudian mereka memperbaiki zirah mereka,
dan membetulkan letak perisai mereka, dan mengambil tombak-tombak baru lalu
meletakkannya pada paha mereka, dan berdiri kokoh layaknya rimbunan pepohonan
hutan.
Komentar
Posting Komentar