BAB XX. Bagaimana Raja Pellinore merampas kuda Arthur dan memburu Questing Beast, dan bagaimana Merlin berjumpa dengan Arthur.
Kisanak kesatria, titah Raja, tinggalkanlah perburuan itu, dan izinkanlah aku yang mengambil alihnya, dan aku niscaya akan memburunya selama dua belas bulan ke depan. Ah, pandir, kata kesatria itu kepada Arthur, sungguh sia-sia hasratmu itu, karena hal itu tidak akan pernah dapat dicapai melainkan olehku, atau oleh kerabat terdekatku. Bersamaan dengan itu ia melangkah menuju kuda Raja dan menaiki pelananya, dan berkata, Terima kasih tiada tara, kuda ini kini menjadi milikku. Baiklah, titah Raja, engkau mungkin merampas kudaku dengan paksa, namun sekiranya aku dapat membuktikan kepadamu apakah engkau lebih tangguh di atas punggung kuda ataukah aku.—Baiklah, kata kesatria itu, carilah aku di sini kapan pun engkau menghendakinya, dan di sini di dekat mata air ini engkau niscaya akan menemukanku, dan maka ia pun berlalu melanjutkan perjalanannya. Kemudian Raja duduk termenung, dan menitahkan para abdinya untuk membawakan kudanya secepat yang mereka sanggup. Tepat demikianlah datang menghadapnya Merlin dalam rupa seorang bocah berusia empat belas tahun, dan memberi hormat kepada Raja, dan bertanya kepadanya mengapakah ia sedemikian gundah. Aku sungguh pantas merasa gundah, titah Raja, karena aku telah menyaksikan pemandangan paling menakjubkan yang pernah aku saksikan. Hal itu aku ketahui dengan sungguh-sungguh, kata Merlin, sama baiknya dengan dirimu sendiri, beserta segala lamunanmu, namun engkau hanyalah seorang yang pandir karena merisaukannya, karena hal itu tidak akan membawa kebaikan bagimu. Juga aku mengetahui siapakah dirimu, dan siapakah ayahandamu, dan dari siapakah engkau diperanakkan; Raja Uther Pendragon adalah ayahandamu, dan menaburkan benihmu pada Igraine. Hal itu adalah dusta, titah Raja Arthur, bagaimanakah engkau dapat mengetahuinya, karena engkau tidak memiliki usia yang cukup untuk mengenal ayahandaku? Ya, kata Merlin, aku mengetahuinya lebih baik daripada engkau atau pria mana pun yang masih bernapas. Aku tidak akan mempercayaimu, titah Arthur, dan menjadi murka terhadap bocah tersebut. Maka bertolaklah Merlin, dan datang kembali dalam rupa seorang pria tua berusia delapan puluh tahun, yang atas hal tersebut Raja merasa teramat gembira, karena ia tampak teramat bijaksana.
Kemudian bertanyalah pria tua itu, Mengapakah Paduka tampak sedemikian
masygul, aku sungguh pantas merasa muram, titah Arthur..., karena banyak hal.
Juga di sini sebelumnya terdapat seorang bocah, dan memberitahuku banyak hal
yang rasanya tidak sepatutnya ia ketahui, karena ia belum cukup umur untuk
mengenal ayahandaku. Benar demikian, kata pria tua itu, bocah tersebut
memberitahu Paduka kebenaran, dan lebih banyak lagi yang niscaya ia beritahukan
kepada Paduka sekiranya Paduka sudi mengizinkannya. Namun Paduka telah
melakukan suatu hal belum lama ini yang membuat Tuhan murka terhadap Paduka,
karena Paduka telah berbaring di peraduan bersama saudari Paduka, dan darinya
Paduka telah memperanakkan seorang anak yang kelak akan membinasakan Paduka
beserta segenap kesatria di kerajaan Paduka. Siapakah gerangan dirimu, titah
Arthur, yang menyampaikan kepadaku kabar-kabar ini? Aku adalah Merlin, dan
akulah dia yang berada dalam rupa bocah tersebut. Ah, titah Raja Arthur, engkau
adalah pria yang menakjubkan, namun aku teramat takjub akan tutur katamu bahwa
aku niscaya akan binasa di dalam pertempuran. Janganlah Paduka merasa takjub,
kata Merlin, karena sudah menjadi kehendak Tuhan agar raga Paduka dihukum atas
perbuatan nista Paduka; namun aku sungguh pantas merasa bersedih hati, kata
Merlin, karena aku niscaya akan menemui ajal yang memalukan, yakni dikubur di
dalam tanah hidup-hidup, dan Paduka niscaya menemui ajal yang penuh kemuliaan.
Dan tatkala mereka memperbincangkan hal ini, datanglah seseorang membawa kuda
milik Raja, dan maka Raja pun menaiki kudanya, dan Merlin menaiki kuda yang
lain, dan maka berkuda menuju Carlion. Dan seketika itu juga Raja bertanya
kepada Ector dan Ulfius bagaimanakah ia diperanakkan, dan mereka memberitahunya
bahwa Uther Pendragon adalah ayahandanya dan Ratu Igraine adalah ibundanya.
Kemudian ia bertitah kepada Merlin, aku menghendaki agar ibundaku dititahkan
untuk menghadap agar aku dapat berbicara dengannya; dan jika ia mengatakannya
sendiri maka barulah aku akan mempercayainya. Dengan segala ketergesaan, sang
Ratu pun dititahkan untuk menghadap, dan ia datang serta membawa bersamanya
Morgan le Fay, putrinya, yang merupakan seorang Lady sejelita yang dapat
dibayangkan, dan Raja menyambut Igraine dengan cara yang paling baik.
Komentar
Posting Komentar