BAB XXII. Bagaimana Griflet ditahbiskan menjadi kesatria, dan bertarung tombak dengan seorang kesatria.

 Engkau masih teramat muda dan belia usianya, titah Arthur, untuk mengemban gelar yang sedemikian tinggi ke atas dirimu. Tuanku, sembah Griflet, hamba memohon kepada Paduka untuk menahbiskan hamba menjadi kesatria. Tuanku, kata Merlin, niscaya teramat disayangkan untuk kehilangan Griflet, karena ia kelak menjadi pria yang amat tangguh tatkala ia telah cukup umur, mengabdi kepada Paduka sepanjang hayatnya. Dan apabila ia mempertaruhkan raganya melawan kesatria di mata air di sebelah sana itu, niscaya ia berada dalam mara bahaya yang teramat besar jika ia sanggup kembali lagi, karena pria itu adalah salah satu kesatria terbaik di dunia, dan prajurit bersenjata yang paling tangguh. Baiklah, titah Arthur. Maka atas kehendak Griflet sang Raja menahbiskannya menjadi kesatria. Kini, titah Arthur kepada Sir Griflet, karena aku telah menahbiskanmu menjadi kesatria engkau harus memberikanku sebuah janji. Apa pun yang Paduka kehendaki, sembah Griflet. Engkau harus berjanji kepadaku demi kesetiaan ragamu, tatkala engkau telah bertarung tombak dengan kesatria di mata air tersebut, entah kesudahannya engkau harus berjalan kaki atau di atas punggung kuda, bahwa serta-merta engkau harus kembali menghadap kepadaku tanpa melontarkan bantahan apa pun lagi. Hamba niscaya berjanji kepada Paduka, sembah Griflet, sebagaimana yang Paduka kehendaki. Kemudian Griflet mengambil kudanya dengan segala ketergesaan, dan mempersiapkan perisainya serta menggenggam sebatang tombak di tangannya, dan maka ia berderap kencang hingga ia tiba di mata air tersebut, dan di sana ia menyaksikan sebuah tenda kebesaran yang mewah, dan di sana di bawah sehelai kain berdirilah seekor kuda yang elok lengkap dengan pelana dan kekangnya, dan pada sebatang pohon tergantung sebuah perisai dengan beraneka rupa warna beserta sebatang tombak yang besar. Kemudian Griflet menghantam perisai itu dengan pangkal tombaknya, sehingga perisai itu terhempas jatuh ke atas tanah. Bersamaan dengan itu kesatria tersebut melangkah keluar dari tenda kebesarannya, dan berkata, Kisanak kesatria, mengapakah engkau menghantam jatuh perisaiku? Karena aku berhasrat bertarung tombak denganmu, kata Griflet. Niscaya lebih baik engkau tidak melakukannya, kata kesatria itu, karena engkau masihlah teramat muda, dan baru saja ditahbiskan menjadi kesatria, dan kekuatanmu sama sekali bukanlah tandingan kekuatanku. Akan hal itu, kata Griflet, aku tetap akan bertarung tombak denganmu. Hal itu teramat enggan aku lakukan, kata kesatria itu, namun karena desakan kebutuhan ini, aku niscaya akan mempersiapkan diriku untuk menyambutnya. Dari manakah asalmu? tanya kesatria itu. Tuan, aku berasal dari istana Arthur. Maka kedua kesatria itu saling berderap menerjang sehingga tombak Griflet hancur berkeping-keping; dan bersamaan dengan hal itu ia menghantam Griflet menembus perisai dan sisi kirinya, dan mematahkan tombaknya sehingga patahan tombak itu menancap di dalam tubuhnya, sehingga kuda dan kesatria tersebut tersungkur jatuh.

Komentar