BAB XXIII. Bagaimana dua belas kesatria datang dari Roma dan menuntut upeti atas tanah Arthur ini, dan bagaimana Arthur bertarung melawan seorang kesatria.

 Tatkala kesatria itu menyaksikannya terkapar sedemikian rupa di atas tanah, ia turun dari kudanya, dan merasa teramat gundah, karena ia menduga ia telah membinasakannya, dan kemudian ia melonggarkan ikatan ketopongnya dan memberinya udara, dan maka beserta patahan tombak itu ia menaikkannya ke atas kudanya, dan maka menyerahkannya kepada perlindungan Tuhan, dan berkata bahwa ia memiliki hati yang amat tangguh, dan jika ia sanggup bertahan hidup ia kelak membuktikan diri sebagai kesatria yang teramat hebat. Dan maka Sir Griflet berkuda menuju istana, di mana duka cita yang besar dirasakan karenanya. Namun melalui para tabib yang cakap ia dipulihkan dan diselamatkan. Tepat demikianlah datang ke dalam istana dua belas kesatria, dan mereka adalah pria-pria yang telah lanjut usia, dan mereka datang dari Kaisar Roma, dan mereka menuntut dari Arthur upeti untuk kerajaan ini, atau jika tidak sang Kaisar niscaya akan membinasakannya beserta tanah kekuasaannya. Baiklah, titah Raja Arthur, kalian adalah para utusan, oleh karena itu kalian boleh mengutarakan apa yang kalian kehendaki, karena jika tidak kalian niscaya binasa karenanya. Namun inilah jawabanku: aku tidak berutang upeti apa pun kepada Kaisar, dan tidak satu pun yang akan aku serahkan kepadanya, melainkan di atas medan pertempuran yang adil aku kelak akan memberinya upetiku yakni dengan sebatang tombak yang tajam, atau jika tidak dengan sebilah pedang yang tajam, dan hal itu tidak akan berselang lama, demi jiwa ayahandaku, Uther Pendragon. Dan bersamaan dengan itu para utusan tersebut bertolak dengan kemurkaan tiada tara, dan Raja Arthur pun sama murkanya, karena pada saat yang teramat buruk mereka datang kala itu; karena Raja tengah teramat murka atas luka yang menimpa Sir Griflet. Dan maka ia menitahkan kepada seorang abdi kepercayaan dari peraduannya agar sebelum fajar menyingsing kuda serta zirah terbaiknya, beserta segala rupa perlengkapan yang pantas bagi dirinya, telah bersiap sedia di luar kota menjelang esok hari. Tepat demikianlah menjelang esok hari ia berjumpa dengan abdinya dan kudanya, dan maka menaiki pelananya serta mempersiapkan perisainya dan mengambil tombaknya, dan menitahkan abdi peraduannya untuk menanti di sana hingga ia kembali lagi. Dan maka Arthur memacu kudanya dengan langkah perlahan hingga hari menjelang terang, dan kemudian ia menyadari keberadaan tiga orang dusun yang tengah memburu Merlin, dan berniat untuk membinasakannya. Kemudian Raja memacu kudanya ke arah mereka, dan menitahkan kepada mereka: Menyingkirlah, kalian orang dusun! kemudian mereka dicekam ketakutan tatkala mereka melihat seorang kesatria, dan melarikan diri kocar-kacir. Oh Merlin, titah Arthur, di sinilah engkau niscaya telah terbunuh betapapun hebatnya segala ilmu sihirmu sekiranya aku tidak berada di sini. Tidaklah demikian, kata Merlin, bukan begitu, karena aku sanggup menyelamatkan diriku sendiri sekiranya aku menghendakinya; dan engkau sejatinya berada lebih dekat dengan mautmu daripada diriku, karena engkau tengah melangkah menuju maut, melainkan jika Tuhan sudi menjadi pelindungmu.

Maka tatkala mereka melangkah sembari bertutur kata demikian mereka tiba di mata air tersebut, dan mendapati tenda kebesaran yang mewah di dekatnya. Kemudian Raja Arthur menyadari di mana duduklah seorang kesatria bersenjata lengkap di sebuah kursi. Kisanak kesatria, titah Arthur, atas alasan apakah engkau berdiam di sini, sehingga tiada seorang kesatria pun yang dapat berkuda melintasi jalan ini melainkan jika ia bertarung tombak denganmu? titah Raja. Aku menasihatimu untuk menanggalkan kebiasaan tersebut, titah Arthur. Kebiasaan ini, kata kesatria itu, telah aku jalankan dan akan terus aku jalankan tak peduli siapa pun yang melarangnya, dan barang siapa yang merasa gusar akan kebiasaanku biarlah ia mengubahnya jika ia menghendakinya. Aku niscaya akan mengubahnya, titah Arthur. Aku niscaya akan melawanmu, kata kesatria itu. Seketika itu juga ia mengambil kudanya dan mempersiapkan perisainya serta mengambil sebatang tombak, dan mereka berbenturan dengan sedemikian kerasnya pada perisai satu sama lain, sehingga tombak mereka hancur berkeping-keping. Bersamaan dengan itu serta-merta Arthur mencabut pedangnya. Tidak, janganlah demikian, kata kesatria itu; niscaya lebih adil, kata kesatria itu, sekiranya kita berdua berderap menerjang sekali lagi dengan tombak-tombak yang tajam. Aku bersedia saja, titah Arthur, sekiranya aku memiliki tombak lagi. Aku memiliki cukup banyak, kata kesatria itu; maka datanglah seorang Squire dan membawakan dua batang tombak yang tangguh, dan Arthur memilih satu dan ia mengambil yang lain; maka mereka memacu kuda mereka dan saling berbenturan dengan segenap tenaga mereka, sehingga keduanya mematahkan tombak mereka hingga ke genggaman tangan. Kemudian Arthur meletakkan tangannya pada pedangnya. Tidak, kata kesatria itu, engkau niscaya bertindak lebih baik, engkau adalah petarung tombak yang amat tangguh yang pernah aku jumpai, dan sekali lagi demi kecintaan terhadap gelar kesatriaan yang tinggi biarlah kita bertarung tombak sekali lagi. Aku menyetujuinya, titah Arthur. Seketika itu juga dibawakanlah dua batang tombak yang besar, dan setiap kesatria meraih sebatang tombak, dan bersamaan dengan itu mereka saling berderap menerjang sehingga tombak Arthur hancur berkeping-keping. Namun kesatria yang lain itu menghantamnya dengan sedemikian keras di tengah-tengah perisainya, sehingga kuda beserta penunggangnya tersungkur ke atas tanah, dan bersamaan dengan itu Arthur menjadi amat beringas, dan mencabut pedangnya, dan bertitah, aku niscaya akan menantangmu, kisanak kesatria, dengan berjalan kaki, karena aku telah kehilangan kehormatan di atas punggung kuda. Aku niscaya akan tetap berada di atas punggung kuda, kata kesatria itu. Kemudian Arthur menjadi teramat murka, dan mengarahkan perisainya ke hadapannya dengan pedang terhunus. Tatkala kesatria itu menyaksikan hal tersebut, ia turun dari kudanya, karena ia menduga tiada kemuliaan untuk menghadapi seorang kesatria dalam keadaan sedemikian rupa, yakni dirinya berada di atas punggung kuda dan lawannya berjalan kaki, dan maka ia pun turun dan mengarahkan perisainya terhadap Arthur. Dan di sanalah bermula pertempuran yang sengit dengan banyak tebasan yang dahsyat, dan sedemikian rupa mereka saling mencincang dengan pedang mereka sehingga serpihan-serpihan zirah bertebaran di medan laga, dan teramat banyak darah yang mereka tumpahkan berdua, sehingga segenap penjuru tempat di mana mereka bertarung itu bersimbah darah, dan demikianlah mereka bertarung untuk waktu yang lama dan mengistirahatkan diri mereka, dan kemudian mereka maju ke medan pertempuran kembali, dan maka saling berbenturan layaknya dua ekor domba jantan sehingga keduanya tersungkur ke atas tanah. Maka pada akhirnya mereka saling menebas bersamaan sehingga kedua pedang mereka beradu tepat satu sama lain. Namun pedang dari kesatria itu menghantam pedang Raja Arthur hingga terbelah menjadi dua bagian, yang oleh karenanya ia menjadi amat gundah. Kemudian kata kesatria itu kepada Arthur, Engkau kini berada di bawah kuasaku entah aku berhasrat untuk menyelamatkanmu atau membinasakanmu, dan melainkan engkau menyerahkan dirimu sebagai pihak yang tertundukkan dan pengecut yang takluk, engkau niscaya akan binasa. Adapun perihal maut, titah Raja Arthur, aku menyambutnya tatkala ia datang, namun untuk menyerahkan diriku kepadamu sebagai seorang pengecut yang takluk aku niscaya lebih sudi binasa daripada menanggung aib sedemikian rupa. Dan bersamaan dengan itu sang Raja menerjang ke arah Pellinore, dan meringkusnya pada bagian pinggangnya lalu membantingnya ke bawah, dan merenggut lepas ketopongnya. Tatkala kesatria itu merasakannya ia pun dicekam kewaspadaan, karena ia adalah seorang pria perkasa yang teramat besar ukurannya, dan serta-merta ia menindih Arthur di bawahnya, dan merenggut lepas ketopongnya serta berniat untuk memenggal putus kepalanya.

Komentar