BAB XXV. Bagaimana Arthur melalui perantara Merlin mendapatkan Excalibur pedangnya dari Lady of the Lake.

 Tepat demikianlah Raja dan ia bertolak, dan pergi menemui seorang pertapa yang merupakan seorang pria budiman dan tabib yang hebat. Maka sang pertapa memeriksa segenap luka-lukanya dan memberinya salep yang mujarab; maka Raja berada di sana selama tiga hari, dan kemudian luka-lukanya telah sedemikian pulih sehingga ia sanggup berkuda dan melakukan perjalanan, dan maka ia pun bertolak. Dan tatkala mereka berkuda, Arthur bertitah, aku tidak memiliki pedang. Janganlah risau, kata Merlin, di dekat sini terdapat sebilah pedang yang kelak menjadi milik Paduka, sekiranya aku sanggup mengupayakannya. Maka mereka berkuda hingga mereka tiba di sebuah danau, yang mana merupakan perairan yang elok dan luas, dan di tengah-tengah danau itu Arthur menyadari keberadaan sebuah lengan yang terbalut kain samite putih, yang menggenggam sebilah pedang yang elok di tangan tersebut. Lihatlah! kata Merlin, di sebelah sana itulah pedang yang aku bicarakan. Bersamaan dengan itu mereka menyaksikan seorang Damosel berjalan di atas permukaan danau tersebut. Damosel siapakah gerangan itu? titah Arthur. Ia adalah Lady of the Lake, kata Merlin; dan di dalam danau itu terdapat sebuah batu karang, dan di dalamnya terdapat tempat yang seelok tempat mana pun di muka bumi, dan berhiaskan kemewahan; dan Damosel ini kelak akan datang menghadap Paduka seketika itu juga, dan kemudian bertutur katalah yang baik kepadanya agar ia sudi memberikan Paduka pedang tersebut. Serta-merta datanglah Damosel itu menghadap Arthur, dan memberinya salam penghormatan, dan ia pun membalasnya. Damosel, titah Arthur, pedang apakah gerangan itu, yang di sebelah sana digenggam oleh sebuah lengan di atas permukaan air? Aku berhasrat pedang itu menjadi milikku, karena aku tidak memiliki pedang. Tuanku Raja Arthur, sembah sang Damosel, pedang itu adalah milikku, dan jika Paduka sudi memberikanku sebuah anugerah tatkala hamba memintanya dari Paduka, Paduka niscaya akan memilikinya. Demi kesetiaanku, titah Arthur, aku niscaya akan memberimu anugerah apa pun yang engkau minta. Baiklah! sembah sang Damosel, pergilah Paduka ke perahu kecil di sebelah sana itu, dan dayunglah diri Paduka menuju pedang tersebut, dan ambillah pedang itu beserta sarungnya bersama Paduka, dan hamba kelak akan meminta anugerahku tatkala hamba melihat saat yang tepat. Maka Sir Arthur dan Merlin turun dan menambatkan kuda-kuda mereka pada dua batang pohon, dan maka mereka menaiki perahu tersebut, dan tatkala mereka tiba di dekat pedang yang digenggam oleh tangan itu, Sir Arthur merengkuhnya pada gagangnya, dan membawanya bersamanya, dan lengan beserta tangan itu pun menyelam ke bawah permukaan air. Dan maka mereka tiba di daratan dan berkuda maju, dan kemudian Sir Arthur menyaksikan sebuah tenda kebesaran yang mewah. Apakah pertanda dari tenda kebesaran di sebelah sana itu? titah Arthur. Itu adalah tenda kebesaran dari kesatria, kata Merlin, yang Paduka perangi terakhir kali, Sir Pellinore; namun ia tengah berada di luar, ia tidak berada di sana. Ia tengah berseteru dengan salah seorang kesatria Paduka yang bernama Egglame, dan mereka telah bertarung satu sama lain, namun pada akhirnya Egglame melarikan diri, karena jika tidak ia niscaya telah binasa, dan ia telah memburunya hingga ke Carlion, dan kita kelak akan bersua dengannya seketika itu juga di jalan utama. Itu adalah kabar yang amat baik, titah Arthur, kini aku memiliki sebilah pedang, kini aku akan mengobarkan pertempuran melawannya, dan membalaskan dendamku kepadanya. Tuanku, Paduka tidak sepatutnya berbuat demikian, kata Merlin, karena kesatria itu telah kelelahan akibat bertarung dan berburu, sehingga Paduka tidak akan mendapatkan kemuliaan apa pun dengan berseteru dengannya; lagipula ia tidak akan mudah ditandingi oleh satu pun kesatria yang masih hidup, dan oleh karena itu inilah nasihatku, biarkanlah ia berlalu, karena ia kelak akan memberikan pengabdian yang baik kepada Paduka dalam waktu dekat, dan putra-putranya sesudah masa hidupnya. Juga Paduka kelak akan menyaksikan pada hari yang tidak berselang lama itu, Paduka niscaya akan teramat gembira untuk menyerahkan saudari Paduka kepadanya untuk dinikahi. Tatkala aku bersua dengannya, aku kelak akan bertindak sebagaimana yang engkau nasihatkan, titah Arthur.

Kemudian Sir Arthur memandangi pedang tersebut, dan menyukainya tiada tara. Manakah yang lebih Paduka sukai, tanya Merlin, pedang itu ataukah sarungnya? Aku lebih menyukai pedang ini, titah Arthur. Paduka sungguh kurang bijaksana, kata Merlin, karena sarung pedang itu bernilai sepuluh kali lipat dari pedang tersebut, karena selama Paduka menyandang sarung pedang itu pada diri Paduka, Paduka tidak akan pernah meneteskan darah sedikit pun, betapapun parahnya Paduka terluka; oleh karena itu simpanlah selalu sarung pedang itu baik-baik bersama Paduka. Maka mereka berkuda menuju Carlion, dan di tengah perjalanan mereka bersua dengan Sir Pellinore; namun Merlin telah merapalkan suatu ilmu sihir sedemikian rupa, sehingga Pellinore tidak melihat Arthur, dan ia berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun. Aku merasa takjub, titah Arthur, bahwa kesatria itu tidak sudi bertutur kata. Tuanku, kata Merlin, ia tidak melihat Paduka, karena sekiranya ia telah melihat Paduka, Paduka niscaya tidak akan dapat bertolak dengan mudah. Maka mereka pun tiba di Carlion, yang atas hal tersebut para kesatrianya merasa gembira tiada tara. Dan tatkala mereka mendengar perihal petualangannya, mereka merasa takjub bahwa ia sudi mempertaruhkan raganya sedemikian rupa, seorang diri. Namun segenap pria yang memiliki kehormatan mengatakan bahwa merupakan suatu sukacita untuk bernaung di bawah junjungan semacam itu, yang sudi menempatkan raganya dalam mara bahaya petualangan layaknya yang dilakukan oleh para kesatria malang lainnya.

Komentar